Pati – Pagi itu di Desa Godo, suara cangkul beradu dengan pasir dan semen berpadu dengan tawa yang mengalir ringan. Terik matahari belum terlalu tinggi, namun beberapa anggota Satgas TMMD Reguler ke-128 Kodim 0718/Pati sudah terlihat sibuk. Di antara mereka, warga setempat ikut larut dalam ritme kerja yang sama—mengaduk semen, mengangkat ember, dan menyusun harapan yang perlahan mulai berbentuk dinding rumah.Kamis (30/04/2026)
Tak ada sekat di antara seragam loreng dan pakaian sederhana warga. Semua menyatu dalam satu tujuan” membangun Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) menjadi tempat tinggal yang lebih manusiawi. Tangan-tangan yang berbeda latar belakang itu bergerak serempak, seolah telah lama saling mengenal. Keringat yang jatuh ke tanah menjadi saksi bahwa kebersamaan ini bukan sekadar simbol, melainkan nyata dan terasa.
Sertu Pujianto, dengan wajah yang sedikit basah oleh peluh, tetap tersenyum sambil mengaduk semen. “Ini untuk plesteran dinding, pelan-pelan tapi harus rapi,” ujarnya sederhana. Di sampingnya, Sumani, sang kepala tukang, mengangguk sambil sesekali memberi arahan. Namun lebih dari sekadar pekerjaan, ada rasa haru yang terselip di matanya melihat semangat gotong royong yang tak pernah surut.
Bagi warga, momen seperti ini bukan hanya tentang pembangunan rumah. Ini tentang perhatian, tentang kehadiran, tentang rasa tidak sendiri. Ketika TNI hadir dan bekerja bersama, ada keyakinan yang tumbuh bahwa harapan bisa dibangun, bahkan dari sesuatu yang sederhana seperti adukan semen.
Program TMMD kali ini bukan hanya meninggalkan bangunan fisik, tetapi juga cerita tentang kebersamaan yang tulus, tentang kepedulian yang nyata, dan tentang harapan yang diaduk bersama dalam setiap ember semen. Di Desa Godo, rumah itu mungkin akan berdiri kokoh, tetapi kenangan tentang kebersamaan ini akan jauh lebih kuat, tertanam dalam hati setiap orang yang terlibat.
(Agus Pati)
