PALEMBANG – Keprihatinan terhadap hilangnya lima jurnalis yang sedang menjalankan tugas peliputan di sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, menggugah insan pers di Sumatera Selatan untuk menggelar doa bersama. Memasuki hari kedelapan, Selasa (15/9/2026), lima jurnalis dan tiga anak buah kapal (ABK) belum juga ditemukan.
Sebagai bentuk solidaritas, jurnalis yang tergabung dalam Forum Jurnalis Sumatera Selatan bersama PWI, AJI, PFI, AMSI, SMSI, JMSI, FJPI Sumsel menggelar doa bersama di Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) Palembang. Doa dipanjatkan agar proses pencarian membuahkan hasil dan para korban dapat kembali ke pelukan keluarga dalam keadaan selamat.
Suasana doa bersama di Monpera berlangsung khidmat. Para peserta berharap kelima jurnalis tersebut segera ditemukan dan dapat kembali berkumpul bersama keluarga dalam keadaan selamat.
Ketua AMSI Sumsel Ardhi Fitriansyah menegaskan, peristiwa di Krakatau harus menjadi evaluasi total bagi perusahaan media soal standar keselamatan jurnalis.
“Kami sangat berduka. Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa kecepatan dan eksklusivitas berita tidak boleh melampaui keselamatan jiwa. Berita terbaik tetap harus mengutamakan jurnalisnya pulang dengan selamat,” tegas Ardhi.
AMSI Sumsel, kata dia, meminta seluruh pimpinan redaksi memastikan jurnalis dibekali peralatan safety yang memadai, komunikasi darurat, asuransi, serta didampingi pemandu lokal yang kompeten.
“Jangan pernah kirim jurnalis sendirian ke zona merah erupsi. Perusahaan media wajib hadir melindungi. Kami juga membuka posko pendampingan untuk keluarga para jurnalis yang hilang,” katanya.
Ketua Forum Jurnalis Perempuan Sumsel, Dwitri Kartini mengatakan kegiatan ini sebagai wujud solidaritas sesama insan media terhadap musibah yang terjadi pada rekan jurnalis yang meliput erupsi anak Krakatau.
“Doa dan bentuk keprihatinan kita terhadap musibah yang terjadi. Semoga rekan jurnalis tersebut segera ditemukan,” ujarnya.
Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palembang RM Resha A Usman mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bentuk solidaritas terhadap lima jurnalis yang hilang ketika menjalankan tugas jurnalistik.
Menurutnya, kabar tersebut menjadi kesedihan bagi seluruh insan pers, terlebih mereka berada di lapangan untuk menjalankan pekerjaan.
“Kami di sini sebagai bentuk solidaritas, turut mendoakan agar mereka bisa kembali dalam keadaan selamat. Kami harap mereka pulang,” ujar Resha.
Namun, di balik doa untuk rekan-rekan yang masih dicari, Resha juga menitipkan pesan kepada seluruh jurnalis yang bekerja di lapangan agar membangun kebiasaan saling menjaga.
Ia meminta wartawan yang hendak menuju lokasi bencana atau wilayah dengan potensi bahaya untuk selalu memberitahukan keberadaannya kepada rekan sesama jurnalis.
“Pesan kami, saling jaga. Kalau kita berangkat ke tempat bencana, berangkat ke mana yang berpotensi berbahaya, kita harus memberitahu rekan-rekan kita,” katanya.
Menurut Resha, kebiasaan sederhana tersebut dapat menjadi sangat penting ketika terjadi kondisi darurat.
Informasi mengenai lokasi keberadaan seorang jurnalis dapat membantu rekan maupun pihak lain meminta pertolongan apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Jurnalis senior Sumsel Oktaf Riyadi berujar, doa bersama menjadi bentuk ikhtiar dan harapan agar delapan orang tersebut segera kembali.
“Kita mengadakan doa bersama hari ini. Teman-teman dari Forum Jurnalis Sumatera Selatan, dari PWI, AJI, PFI, IJTI, AMSI, SMSI, JMSI, FJPI dan lain-lain sama-sama berharap teman kita kembali,” ujarnya.
Oktaf berkata, para jurnalis menyadari setiap pekerjaan memiliki risiko. Namun, risiko tersebut harus tetap diperhitungkan, terutama ketika wartawan ditugaskan ke wilayah yang memiliki potensi bahaya.
“Berita, pengen dapat yang terbaik, dapat pujian dari kantor dan lain-lain. Atasan pun, pimpinan kita pun, cari berita yang sebaik-baiknya, tapi nomor satu tetap keselamatan,” tegasnya.
Dia berucap, keselamatan tidak hanya menjadi tanggung jawab wartawan yang berada di lapangan. Pimpinan media juga memiliki peran penting dalam memastikan penugasan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi dan risiko di lokasi.
“Pimpinan juga harus melihat, ini bahaya nggak kalau kita kirim wartawan kita. Itu harus dipertimbangkan,” katanya.
Ia menilai prinsip tersebut berlaku bagi seluruh jurnalis, baik wartawan tulis, wartawan foto maupun mereka yang menjalankan tugas investigasi.
Keinginan menghasilkan berita terbaik tidak boleh membuat aspek keselamatan dikesampingkan.
“Walaupun berita kita pengen yang terbaik, tapi keselamatan tetap dijaga. Karena itu memang harus dipertimbangkan, apakah ini berbahaya atau tidak,” ungkapnya.
Doa bersama yang dipimpin M Rofei Husin. Dalam doanya, ia memohon agar Allah SWT memberikan perlindungan kepada kelima jurnalis serta memudahkan seluruh proses pencarian.
“Ya Allah, di mana pun saudara-saudara kami berada, lindungi dan jagalah mereka. Jika mereka sedang menghadapi kesulitan, berikan pertolongan-Mu. Jika mereka sedang dalam ketakutan, berikan ketenangan dan kekuatan,” doa M. Rofei Husin.
Ia juga mendoakan keluarga kelima jurnalis agar diberikan kesabaran dan ketabahan selama menunggu kabar.
“Ya Allah, mudahkan setiap upaya pencarian dan penyelamatan. Tuntunlah langkah para petugas SAR dan semua pihak yang sedang berusaha menemukan mereka. Pertemukanlah mereka kembali dengan keluarga dalam keadaan selamat.”
Doa dan solidaritas dari Monpera Palembang menjadi bentuk kepedulian insan pers Sumatera Selatan terhadap keselamatan para jurnalis yang menjalankan tugas di lapangan.
Di penghujung doa, perhatian juga disampaikan kepada para korban KM Virgo Transport 8 yang mengalami musibah di Laut Jawa. Semoga Allah SWT memberikan keselamatan bagi mereka yang masih dalam pencarian, menguatkan keluarga yang menunggu, serta memberikan tempat terbaik bagi korban yang telah meninggal dunia.
“Semoga Allah SWT menjaga, melindungi dan memberikan pertolongan kepada saudara-saudara kita yang sedang dalam musibah,” kata dia.
Hingga hari kedelapan pencarian, delapan orang yang masih belum ditemukan yakni :
1Warta (55), kapten kapal;
2Surakman (60), ABK;
3Heriyanto (49), guide;
4M Bagus Khoirunnas (28) dari Antara,
5Arie Basuki (52) dari Merdeka,
6Yudistiro Pranoto (43) dari iNews,
7Anadolu Firdaus (42) dari Anadolu, dan
8Donal Husni (51), jurnalis freelance.
