SAN FRANCISCO, AS – Flam, sebuah perusahaan konten interaktif berbasis AI, telah meraih pendanaan Seri B sebesar US$40 juta (Rp706 miliar) yang dipimpin oleh QED Investors.

Claypond Capital, Martin Chavez, Olivier Pomel, Venky Harinarayan, dan Shah Rukh Khan turut berpartisipasi dalam putaran pendanaan ini, sementara investor lama seperti RTP Global dan Dovetail kembali menambah investasi mereka.

Flam telah menggaet lebih dari 100 pelanggan korporat dalam enam kuartal, termasuk Google, Grab, dan KFC. Mereka menggunakan rangkaian produk Flam untuk berbagai keperluan seperti pemasaran, visualisasi produk, pembelajaran dan pengembangan, hiburan, keterlibatan penggemar, dukungan pelanggan, dan penjualan.

Flam telah menjalin kemitraan dengan Elang Mahkota Teknologi (Emtek) di Indonesia untuk menghadirkan teknologinya bagi berbagai merek di seluruh Asia Tenggara.

“Flam dibangun berdasarkan pengamatan sederhana. Konten telah berkembang dalam berbagai gelombang—dari teks ke gambar, lalu ke video—dan setiap gelombang mengalir satu arah, yakni dari kreator ke penonton. Kami meyakini bahwa interaktivitas adalah standar baru bagi internet di masa depan,” ujar Shourya Agarwal, Pendiri Flam.

“Permintaannya sebenarnya sudah ada sejak lama, namun teknologinya belum tersedia. Kini, kami telah membuat proses pembuatan dan penerapan interaktivitas menjadi sangat mudah dalam skala perusahaan,” imbuh dia.

Flam memegang lebih dari 15 paten dan meluncurkan tiga format produk.

Flicks adalah video interaktif yang dapat mengubah subjek (orang), produk, atau latar adegan di tengah pemutaran. Format ini menggunakan algoritma kompresi yang telah dipatenkan dan disajikan secara terprogram dengan waktu time-to-first-buffer (waktu hingga buffer pertama) hanya 50 milidetik.

Forge, model penyuntingan Flam, menggunakan referensi gambar dan hanya mengubah elemen tertentu yang ditentukan.

Airboards adalah konten 3D berkualitas tinggi yang ditampilkan melalui antarmuka kamera, serta mendukung interaksi sentuh, suara, dan umpan balik haptik.

Teknologi streaming 3D Flam memungkinkan konten ini dimuat dalam waktu 300 milidetik tanpa perlu menginstal aplikasi. Fable, sebuah model pengubah gambar menjadi video, menghasilkan aset berupa video dengan saluran alfa (alpha channel) bawaan.

Visual Agents adalah karakter menyerupai manusia yang mampu melakukan percakapan dan mengambil tindakan layaknya agen aktif—sebuah pengalaman panggilan video, bukan sekadar jendela obrolan.

Fantom menangani ekspresi wajah melalui teknik pelestarian identitas dan transfer gerakan; Finesse menangani suara dalam berbagai bahasa; dan Falcon—sebuah model bahasa besar (LLM) MoE dengan 26 miliar parameter—memberikan respons dengan waktu time-to-first-token (waktu hingga token pertama) sebesar 30 milidetik. Pipeline tersebut menghasilkan jawaban dalam waktu kurang dari dua detik.

Nigel Morris, salah satu pendiri sekaligus Managing Partner di QED Investors, mengatakan hampir setiap perusahaan konten AI terdepan yang kami amati berfokus mengoptimalkan apa yang sudah ada.

“Flam menyoroti hal lain: betapa besarnya bagian dari ekosistem konten yang belum tergarap. Kesenjangan tersebut jauh lebih besar daripada perkiraan kebanyakan orang, dan Flam adalah tim pertama yang kami lihat memiliki infrastruktur untuk menggarap peluang itu,” kata dia.

“Traksinya begitu luar biasa hingga sulit untuk diabaikan,” ujar Sandeep Patil, Partner di QED Investors.

“Setiap perubahan besar dalam konten internet selalu melahirkan platform baru dan pemain yang sukses. Hal yang meyakinkan kami bahwa Flam akan menjadi salah satunya bukan hanya tingkat pertumbuhannya, melainkan juga kecepatan riset AI mereka serta para mitra yang memilih untuk membangun solusi di atas teknologi tersebut,” ujar dia.

Modal ini akan dialokasikan untuk penelitian dan pengembangan (R&D) model AI Flam, perluasan rangkaian produk, serta peningkatan skala penjualan untuk segmen perusahaan (enterprise) secara global.