Jakarta – Forum Wartawan Kebangsaan (FWK), Kamis (24/9), mendoakan dan menyemagati kontigen atlet Indonesia yang akan turun bertanding hari ini, meraih medali emas pertama di Asian Games Aichi, Nagoya 2026. Momen yang ditunggu-tunggu itu, mempertemukan tim bulu tangkis beregu putra Indonesia, berhadapan dengan China di partai final nanti siang, pukul 14.00.
FWK meminta Presiden Prabowo tidak hanya memberikan bonus Rp 3 miliar bagi peraih medali emas Asian Games 2026, tapi yang jauh lebih penting memperhatikan proses pembinaan atlet berprestasi dalam jangka panjang.
“Bonus Rp 3 miliar terbilang kecil, kalau perlu dipertimbangkan sampai Rp 10 miliar. Ini akan lebih menyemangati setiap atlet, berjuang habis-habisan di arena pertandingan,”ujar mantan Wakil Ketua Dewan Pers 1999-2022, Hendry Ch Bangun pada Diskusi Kebangsaan FWK, di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Berbeda dengan sebelumnya, diskusi kali ini diawali dengan menyaksikan pertandingan semifinal antara tim bulu tangkis beregu putra Indonesia melawan Thailand yang dimenangkan oleh Jonatan Christie dan kawan-kawan 3-1.
Kemenangan ini melegakan peserta diskusi yang kebanyakan adalah wartawan senior olahraga. Hendry Bangun yang memimpin diskusi itu adalah mantan wartawan senior olahraga Harian Kompas, dengan spesialisasi bulu tangkis, dengan banyak pengalaman meliput berbagai kejuaraan bulutangkis dunia, seperti All England, Olimpiade, dan Asian Games.
“Diskusi ini untuk menyampaikan keprihatinan kita terhadap perkembangan pembinaan olahraga di Tanah Air kita. Terutama untuk cabang olahraga bergengsi yang dipertandingkan dalam olimpiade dan Asian Games. Sambil mengingatkan Indonesia pernah punya tokoh-tokoh olahraga berdedikasi tinggi, seperti MF Siregar dan Bob Hasan,” ujar Jimmy S Harianto, mantan wartawan senior Kompas.
Peserta diskusi FWK mencatat hingga hari kelima Asian Games 2026, Indonesia ketinggalan dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya dalam peraihan medali emas. Vietnam, Singapura, Malaysia dan Myamar lebih dulu mengantongi medali emas, sementara Indonesia belum.
Indonesia mengikuti Asian Games Aichi-Nagoya dengan 432 orang atlet; 145 orang ofisial dan 35 cabang olahraga. Presiden Prabowo, secara simbolis, melepas atlet ke Asian Games di Istana tanggal 9 September lalu. “Seharusnya, presiden juga datang langsung ke Asian Games. Ini bentuk perhatian yang dibutuhkan,”tambah Hendry Bangun.
Wartawan senior Kantor Berita ANTARA, AR Loebis dan sejumlah peserta diskusi lainnya, Dr. Budi Nugraha, Sigit Setiyono, Sarwani, Herwan Pebriansyah dan Herry Sinamarata menyoroti isu persiapan dan anggaran pelatnas Asian Games yang bermasalah.
Tokoh olahraga MF Siregar sejak lama mengingatkan, prestasi olahraga tak bisa diciptakan secara instan menjelang Asian Games atau olimpiade.
Terkait hal ini, Hendry Bangun mengapresiasi ikhtiar Ketua Umum PASI, Luhut Binsar Panjaitan yang mendorong pelaksanaan Pelatnas atlet Atletik jangka Panjang dengan pendanaan multiyear.
Menurut Hendry Bangun, sampai mampu bersaing di tingkat Asia dan dunia, dibutuhkan waktu bertahun-tahun, membina atlet berprestasi.
“Jika kemampuan anggaran pemerintah terbatas, coba libatkan masyarakat, kolaborasi dengan dunia usaha. Presiden Prabowo perlu turun tangan merangkul tokoh-tokoh masyarakat, dunia usaha, ikut membina olahraga. Model ini pernah sukses dilakukan Presiden Soeharto di masa Orde Baru,”tambahnya.
Peserta diskusi FWK setuju dengan filosofi olahraga ini, membina olahraga harus berproses, tidak cukup dengan mengambil hasil di akhir saja dengan memberi bonus.
