suarajurnal.co, PALEMBANG – Penjagaan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) dan Rumah Tahanan Negara (Rutan) di wilayah Sumatera Selatan, selama bulan Ramadan 1445 Hijriyah akan diperketat. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya tahanan atau narapidana yang melarikan diri.
“Ada tiga kegiatan yang dilakukan pada malam dan dini hari selama puasa, sehingga hal itu rawan adanya narapidana dan tahanan yang kabur karena suasana yang masih gelap,” kata Kakanwil Kemenkumham Sumsel, Dr. Ilham Djaya, Selasa (12/3).
Menurut dia, dua kegiatan dilakukan pada malam hari adalah buka puasa dan salat tarawih, serta makan sahur yang dilakukan dini hari selama Ramadan.
Ilham minta kepada jajaran Lapas, Rutan, serta LPKA untuk memperketat penjagaan dengan menambah jumlah petugas jaga di sejumlah lokasi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Bahkan, kamera CCTV juga dipasang di ruang tahanan untuk memantau aktivitas mereka selama di dalam kamar,” ujarnya.
“Saya berharap penjagaan yang ekstra ketat itu tidak mengganggu ketenangan para penghuni LP yang menjalankan ibadah puasa,” katanya, menambahkan.
Kakanwil Ilham Djaya juga minta dilakukan optimalisasi kegiatan Satuan Operasional Kepatuhan Internal Pemasyarakatan (Satops Patnal PAS) untuk memastikan seluruh petugas melaksanakan SOP dan tidak melakukan penyalahgunaan wewenang.
“Kita minta agar Lapas dan Rutan terus lakukan deteksi dini terhadap potensi kerawanan gangguan keamanan dan ketertiban, terutama dalam upaya pencegahan masuknya handphone, narkoba dan barang terlarang lainnya,” tegas Ilham.
Di samping itu, Ilham Djaya minta Kalapas, Karutan, Ka. LPKA agar melakukan koordinasi dengan Polri dan TNI untuk membantu pelaksanaan kegiatan pengamanan selama Bulan Ramadan tahun ini.
“Laporkan dengan seketika apabila terjadi gangguan yang mengancam keamanan, ketertiban dan keselamatan Petugas, Narapidana, Tahanan dan Anak kepada pimpinan,” pungkas pria yang akrab disapa Ilham tersebut.
Di samping itu, lanjut Ilham, dirinya meminta pihak Lapas dan Rutan untuk bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menggelar pondok pesantren bagi para narapidana dan tahanan.
“Banyaknya kegiatan positif yang dilakukan warga binaan selama di dalam Lapas juga merupakan salah satu upaya untuk mengantisipasi adanya gangguan kamtib,” paparnya.
Selain itu, kata dia, pihaknya selalu melakukan pendekatan secara persuasif dan kekeluargaan kepada para narapidana dan tahanan selama mereka menjalankan aktivitas rutin, sehingga terjalin komunikasi yang baik.
“Para petugas juga menghindari tindakan diskriminasi dan semua kebutuhan mereka dipenuhi dengan baik, sehingga merasa nyaman selama berada di lembaga pemasyarakatan,” tukasnya. (**)
Editor: Donni
