NANNING, TIONGKOK – Selama ajang China-ASEAN Expo ke-23 dan China-ASEAN Business and Investment Summit, China Southern Power Grid memamerkan berbagai inovasi yang dirancang untuk mendukung kerja sama energi antara Tiongkok dan ASEAN.
Inovasi tersebut mencakup DaWatt—sebuah Large Language Model (LLM) berbahasa Laos untuk sektor energi dan ketenagalistrikan (versi 2.0)—serta Platform Pemantauan & Analisis Cerdas Flexible Grayscale* untuk keamanan siber sistem kelistrikan, yang menyoroti peluang kerja sama yang kian berkembang di bidang digitalisasi, teknologi cerdas, dan energi hijau.
LLM berbahasa Laos tersebut telah diterapkan di Electricité du Laos Transmission Company Limited (EDL-T), yang memungkinkannya menganalisis ribuan gambar hasil inspeksi secara otomatis dalam waktu singkat.
Setelah algoritmanya dioptimalkan untuk medan pegunungan dan hutan hujan Laos, model ini berhasil menyelesaikan analisis inspeksi cerdas untuk empat jalur transmisi, memproses 26.000 gambar inspeksi drone, serta mengidentifikasi lebih dari 3.600 kerusakan peralatan.
Liu Ying, Manajer Umum Departemen Digitalisasi di Guangxi Power Grid Co Ltd menyatakan bahwa perusahaan sedang membangun korpus profesional multibahasa untuk sektor ketenagalistrikan yang mencakup negara-negara ASEAN, termasuk Laos, Vietnam, dan Malaysia.
Dengan memanfaatkan kemampuan model dasar DaWatt, perusahaan mengembangkan model energi dan ketenagalistrikan yang disesuaikan dengan bahasa-bahasa di ASEAN serta aplikasi industri kelistrikan di dunia nyata.
Pengembangan talenta merupakan fokus lain dari kerja sama ini. China-ASEAN Institute of Energy, yang didirikan bersama oleh Guangxi Power Grid Co Ltd dan Universitas Guangxi, sedang menjajaki model pelatihan yang memadukan industri dan akademisi dengan penekanan kuat pada pengalaman praktis. Sejauh ini, dua angkatan yang terdiri dari total 53 mahasiswa asal negara-negara ASEAN telah mengikuti program tersebut.
Kerja sama ini juga berkembang dari sekadar pelatihan satu arah menuju inovasi bersama. Guangxi Power Grid Co., Ltd. dan Royal Academy of Cambodia telah mendirikan laboratorium kecerdasan buatan (AI) dan peralatan keselamatan secara bersama-sama, sementara perusahaan juga telah memulai pertukaran antarrekan sejawat (peer-to-peer) dengan Electricité du Laos terkait peningkatan keandalan pasokan listrik.
Untuk mengatasi hambatan bahasa dalam pertukaran teknis lintas batas, Guangxi Power Grid Co., Ltd. telah mengembangkan platform penerjemahan berbasis AI yang didukung oleh basis data khusus berisi terminologi untuk lebih dari 1.800 jenis peralatan kelistrikan. Platform ini mendukung penerjemahan yang akurat antara bahasa Mandarin dan Inggris, Mandarin dan Lao, serta Mandarin dan Vietnam.
Dalam sebuah program pelatihan baru-baru ini bagi para insinyur dari Tiongkok dan luar negeri, sistem tersebut memfasilitasi pembuatan materi kursus dwibahasa hanya dengan satu klik serta penerjemahan ucapan secara real-time, sehingga membantu peserta memahami istilah-istilah teknis yang sangat spesifik di sektor ketenagalistrikan.
Untuk mendukung pertukaran internasional yang berkelanjutan, Guangxi Power Grid Co Ltd juga telah membentuk wadah talenta internasional yang mencakup tenaga manajemen, teknis, dan tenaga ahli terampil. Perusahaan ini telah mengembangkan materi kursus mengenai urusan internasional dengan durasi total 24 jam serta 20 kursus dalam format video pendek.
“Tahun ini, kami juga akan menjajaki program pascasarjana bersama dengan universitas-universitas di negara-negara ASEAN,” ujar Sun Xiaohua, Wakil Direktur Departemen Sumber Daya Manusia di Guangxi Power Grid Co Ltd.
Ke depannya, Guangxi Power Grid Co Ltd berencana untuk lebih memajukan model pengembangan yang mengusung konsep “Litbang di Beijing, Shanghai, dan Guangdong; integrasi di Guangxi; serta penerapan di ASEAN.
Perusahaan akan terus memperluas korpus multibahasa sektor ketenagalistrikan dan menjajaki model Token Mendunia (Token Goes Global) untuk kecerdasan buatan (AI) di sektor ketenagalistrikan, di mana sumber daya komputasi dan model berbasis di Guangxi sementara layanan pengetahuan disalurkan ke luar negeri.
Upaya ini bertujuan untuk menciptakan bentuk-bentuk baru kerja sama energi Tiongkok-ASEAN serta mendukung pembangunan hijau di Kawasan Perdagangan Bebas Tiongkok-ASEAN 3.0.
